Rabu, 08 Juli 2015

SOBI SUMMIT 2015 - Kisah dari Ranah Minang

        

            
             RAKERNAS dan MUNAS Sobat Bumi Indonesia pertama diselenggarakan di Denpasar, Bali 21 Februari 2014. Pada tahun ini acara ini dinamakan Sobi Summit 2015 yang bertema “What will you do for the earth?” acara ini diselenggarakan di Padang, Sumatera Barat. Beberapa masalah dan pertimbangan keuangan menjadi salah satu faktor yang mempersulit hati ini untuk pergi ke ranah Minang, ke tanah Hayati yang begitu kental dengan adat istiadat. Alhamdulillah, setelah mencoba untuk menelepon orang tua Allah memberikan rezeki untuk berangkat ke Padang. Dengan kesenangan dan kebahagiaan yang muncul ketika bisa berangkat menuju pulau Sumatera untuk pertama kalinya. Dengan menggunakan pesawat Lion air tangga 13 Mei 2015 saya berangkat menuju Padang dan transit di Jakarta selama 5 jam. Dengan hati yang sangat senang ingin melihat ranah Minang secara langsung. Bandara International Minangkabau dengan atap Padang yang khas dengan bentuk tajam membentuk tanduk kerbau. Kak tari menjemput saya dari Bandara menuju kota Padang. Saya berencana untuk menginap beberapa malam di rumah kak Yudha yang juga anggota dari sobat bumi Indonesia. Bunda adalah orang yang paling ramah meskipun hanya beberapa menit saya mengenalnya, sapaan akrab yang membuat kita terasa nyaman untuk tinggal di rumah orang lain. Disitu saya mulai belajar mengenai adat Minang yang begitu kental dengan hukum adatnya. Adalah sikumbang salah satu marga dari Ranah Minang yang dimiliki oleh keluarga kak Yudha dan merekapun masih keturunan kepala suku dari pendahulu mereka, sehingga antara kak Yudha dan Yudhi akan menjadi tokoh adat dari suku sikumbang yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga saudaranya yang lain. Selfie dan Groupie adalah identitas dari kak Yudha karena yang terpenting dari setiap kegiatan adalah dokumentasi dan memori gambar yang tidak akan terlupa selamanya, saya  bercerita banyak dengan bunda. 
Kak Fery - Kak Yudha - dan saya (Fajri)
Begitupun, dengan kak Ferry sahabat saya dari Surabaya yang memiliki sejuta pengalaman hidup yang membuatnya menjadi begitu kuat karena selalu disiram oleh derita hidup. Banyak pelajaran yang saya ambil dari dirinya. Dari bagaimana  berusaha tanpa batas dan berusaha tanpa mengenal 4 huruf “malu”, sangat inspiratif jauh dibandingkan dengan kehidupan saya yang Allah selalu memberikan rezeki yang melimpah dan terkadang sering khilaf akan nikmatnya, astagfirullah.
Banyak pelajaran yang saya petik dari semua teman-teman sobat bumi Indonesia karena memang kami adalah penerima beasiswa yang bukan hanya rajin belajar dan pintar secara akademik. Tetapi, kami adalah sekumpulan mahasiswa yang melewati batas dengan kecakapan berorganisasi memperjuangkan hak dan kepentingan orang lain. Hal yang berkesan bagi diri saya adalah mereka tetap menjadi diri sendiri dengan kemampuan yang mereka miliki. Semangat pantang menyerah yang harus saya pelajari. Semangat beribadah yang harus saya ikuti. Dan semangat untuk berkelakuan baik yang harus saya contohi. Sobi Summit 2015 merupakan sebuah kenangan yang indah yang mungkin bukan hanya saya seorang. Tetapi, oleh 50 orang mahasiswa lainnya yang mengikuti acara ini yang lagi-lagi memiliki kesempatan untuk bertemu dengan mahasiswa Aceh, Medan, Palembang, Padang, Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, Bali, hingga Marauke.

We are Sobat Bumi Indonesia, setahun kami sudah mengabdi banyak tawa dan canda yang kami lakukan. Banyak tinta melalui pena yang kami tuliskan cerita persahabatan, kekaguman, dan kebanggan adalah yang saya rasakan bersama kalian. Terimakasih telah banyak mengukir cerita di goresan yang telah saya rasakan saya merasa ada di dunia ini ketika kita bersama saling merangkul kisah ini sungguh begitu indah yang akan saya kenang sepanjang hidup saya. Dan mungkin suatu saat ketika ingatan ini luntur karena waktu atau mungkin sirna. Tulisan ini saya akan mencatat semua nama-nama kalian para sahabat, para sobat, karena kita satu. :
  1. Odit Mukri (Presiden Sobat Bumi Indonesia)
  2. Agnes Kartika Yunita Sitinjak
  3. Ahmadi Satria
  4. Aisyah Khairun Nisa
  5. Alvin Mediadi Kusumah
  6. Anggit Adi Wijaya
  7. Anisa Fitria
  8. Annisa Muliahati
  9. Annisa Sekar Kasih
  10. Aprizzal Pungky Pratama
  11. Arfiana Mahdiati
  12. Arie Purnatrie
  13. Atika Narulita Sari
  14. Bisyri Hakim
  15. Cendra Faris Mahdi
  16. Cindy Suci Ananda
  17. Dewi Sucitra S
  18. Elisabeth Wihelmina Marey
  19. Evi Santi Pratiwi
  20. Fahmi Dwilaksono
  21. Faiz Fahmi
  22. Harun Al Rasyid
  23. Hertanto
  24. Inggrid Eka Pratiwi
  25. Jefri Laban Ofias
  26. Julia Nelly Aprilia Yoku
  27. Kamil Arif Patarai
  28. Koko Wijayanto
  29. Mahraniy
  30. Maikel Kondologit
  31. Melinda Nur Octavia
  32. Melisa Pramesti Dewi
  33. Merry Christine Sarce Rumainum
  34. Metirona Antoh
  35. Mochammad Isro Al Fajri
  36. Mohd Alghafiqie A
  37. Muhammad Wildan
  38. Nanik Wijayanti
  39. Natasha Jessica
  40. Oktiafery Wicaksono
  41. Rahmat Nur Hidayat
  42. Reyhan Revandy
  43. Rian Adha Ardinata
  44. Ridlo Gilang Wicaksono
  45. Rizki Dwika Aprilian
  46. Surati
  47. Toayah Indah Sari
  48. Triani Waprak
  49. Yulia Wulandari
  50. Zamnia Wahyuli      
Rakernas dan Munas SOBI di Bali 
Green Action di Pantai Sanur Bali tahun
Rangkaian Rakernas dan Munas 20-23 Februari 2014






        Sobi Summit 2015 hari pertama, tanggal 14 Mei 2015 langit menunjukan waktu isya, adalah waktu untuk pertama kali bertemu dengan kawan kawan baik kami yang kami rindukan. Dari sobat bumi Palembang ada kak Herman, Reza, Rima, Faisal, sherly, dan Danu. Banyak pengalaman dan cerita menarik yang telah kami buat bersama dari mulai menginap di Hotel di daerah Bukit Tinggi kemudian ke kebun binatang, kacamata kak Reza jatuh ke kandang Harimau, wawancara Bule, dan begitu banyak kisah kasih yang terjadi diantara kami. 
Hujan pertama dibukit tinggi ketika kami mencari baju grosir di pasar dan mencari mobil rent cat untuk pulang kembali ke Padang, kisah ini bukan akhir dari kisah kami di Padang. Langit akan menyatukan kisah kami yang berawal dari Padang hingga ke tana saya berpijak tana Samawa. Begitu tidak akan terlupakan perjalanan kami diBukit tinggi pada tanggal 19-20 Mei 2015 yang berawal dari tur berama keseluruhan delegasi yang masih berada di Padang kami menggunakan 3 mobil untuk menuju berlibur ke Bukit tinggi. Perjalanan dimulai, kadang saya merasa ketakutan apabila mobil merasa melaju begitu cepat dan Itu yang saya rasakan selama perjalanan. Sebisa mungkin saya ingin belajar dari apa yang saya lihat dari kebersihan, sikap, dan perilaku orang disekitar saya. Terdapat sebuah fenomena menarik kotak amal yang memiliki 4 sekat dan kadang banyak jumlahnya di sekitar masjid yang berada di Padang, Disana saya belajar akuntabilitas atau kepercayaan bagi pemberi amal atas uang mereka untuk apa dipergunakakan, hal ini saya lihat di musholla Restoran tempat persinggahan kami, Masjid besar di Bukit tinggi, dan Masjid Diana lokasi kami solat Jum’at pada hari kedua Sobi Summit 2015 di SMK PP. 

PASAR MODAL INDONESIA MASIH TERTINGGAL


Pasar modal Indonesia memiliki sejarah cukup panjang. Secara resmi ditandi dengan pembukaan Bursa Efek Batavia, pada 14 Desember 1912 sebagai cabang dari Bursa Efek Amsterdam. Hal ini meneguhkan bursa efek di Indonesia sebagai yang tertua di Asia, seperti Bombay, Hongkong dan Tokyo (Solihin, 2013). Meskipun Indonesi merupakan salah satu bursa efek tertua di Asia dapat dikatakan bahwa pasar modal Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan bursa efek muda bukan lagi setingkat Asia tetapi Asia tenggara. Berdasarkan data World Federation of Exchange (2012), kapitalisasi pasar bursa saham Indonesia sepanjang Januari 2013 hanya tumbuh 7,6% atau senilai dengan Rp 4.386 triliun dan berada di urutan kesepuluh di kawasan Asia Pasifik. Perbedaan yang begitu jauh apabila kita komparasi dengan Thailand yang merupakan kapitalisasi pasar dengan pertumbuhan tertinggi yakni sebesar 46,6%. Kemudian, Pertumbuhan kapitalisasi pasar saham Indonesia juga di bawah bursa saham Filipina yang tumbuh 41,3%, Hong Kong 20,1%, Singapura 19,6%, Shenzhen China 16%, Australia 12,7%, Shanghai China 16%, dan India 15,9%. Sementara bursa Malaysia hanya tumbuh 3,3%. Meskipun, jumlah pertumbuhan Indonesia masih berada di atas Malaysia. Namun,apabila dilihat dari Nilai kapitalisasi pasar modal Malaysia saat ini sudah mencapai US$ 3 triliun, sedangkan Indonesia baru sekitar US$ 300 miliar. Kemudian, apabila dilihat dari jumlah emiten Malaysia, Indonesia jauh tertinggal. Jumlah emiten Malaysia saat ini sudah mencapai 907 emiten, sedangkan Indonesia belum menembus angka 500 emiten (Hadaad, 2013). Selain itu, jika dilihat dari jumlah investor di pasar modal, Malaysia mampu mencatatkan 12,8 persen dari jumlah keseluruhan warganya. Sedangkan pasar modal Indonesia hanya mampu mencatatkan 0,27% dari  yang jumlahnya kurang dari 1% jumlah penduduk di Indonesia.
Sementara itu  jumlah emiten di pasar modal Indonesia pada 5 tahun terakhir rata-rata bertumbuh 5% per tahun.  Per  5  November  2014, jumlah emiten telah mencapai  501 emiten, baik emiten saham maupun emiten surat utang korporasi. Jumlah emiten tersebut termasuk rendah apabila kita dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN seperti Malaysia dengan 905 emiten dan Singapura sebanyak 767 emiten (OJK, 2014). Beberapa fakta di atas adalah bukti nyata bahwa pasar modal Indonesia  masih tertinggal. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa permasalahan yakni. Pertama, Jumlah investor domestik yang jumlah nya hanya 40% dan investor asing menguasai hampir 60% jumlah kepemilikan saham di pasar modal indonesia.  Kondisi ini mengakibatkan kerentanan pasar modal indonesia terhadap posisi net sell oleh investor asing.  Oleh sebab itu peningkatan jumlah dan transaksi investor domestik perlu terus ditingkatkan. Hal ini berbanding terbalik dengan jumlah masyarakat kelas menengah Indonesia sebagai investor potensial di pasar modal, yang jumlahnya mencapai 134 juta jiwa atau sekitar 65% dari total 237 juta penduduk Indonesia.
Kedua, Pengetahuan yang minim mengenai bagaimana berinvestasi di sektor jasa keuangan, khususnya di pasar modal. Kapabilitas sumber daya manusia dan sosialisasi kepada pemerintah daerah adalah hal mutlak yang harus dilakukan pemerintah. Berdasarkan  survey literasi keuangan  yang dilakukan oleh OJK (2013),  baru sekitar  21,84%  masyarakat Indonesia yang benar-benar paham mengenai Lembaga Jasa Keuangan (LJK). Sementara itu dalam kategori  yang lebih  spesifik,  hasil survei nasional literasi keuangan OJK menunjukkan  bahwa  baru  28%  pelajar atau mahasiswa yang memiliki tingkat literasi yang baik dengan tingkat utilitasnya sebesar 44%. Dari survei ini juga terungkap bahwa informasi mengenai sektor perbankan masih mendominasi tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia. Sedangkan, tingkat literasi  atas  produk dan layanan  di  sektor pasar modal  masih sangat rendah, hanya sekitar 4% dengan tingkat utilisasi kurang dari 1%. Sehingga, Sebagian besar masyarakat kelas menengah kita masih memiliki  pandangan yang konvensional dalam hal menginvestasikan kelebihan dananya, yaitu melalui tabungan di bank daripada berinvestasi di pasar modal.
Ketiga, Harga Indeks di Indonesia terlalu mahal, sehingga membuat investor susah untuk masuk ke dalam pasar modal Indonesia.  salah satunya menambah supply di market. Padahal yang terpenting adalah menambah supply agar pasar likuid bertambah, menambah supply dimarket juga bertambah dan menambah jumlah investor di pasar modal Indonesia.
Disisi lain Indonesia perlu mengambil langkah-langkah tepat dan baik agar pasar modal Indonesia berkembang baik secara kualitas dan kuantitas. Menurut OJK (2013), Hal yang harus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan jumlah investor dan emiten yakni dengan penyederhanaan prosedur penawaran umum, pendalaman pasar saham, sosialiasi kepada perusahaan yang berprospek IPO, pengembangan pasar obligasi, dan perluasan basis investor domestik. Kemudian, Hal ini didukung dengan pernyataan Muliaman (2013) Untuk  dapat meningkatkan daya saing pasar modal, hal yang perlu dilakukan adalah edukasi bagi masyarakat, peningkatan good corporate governance (GCG), pendalaman pasar, dan diverisfikasi produk.
Perkembangan pasar modal Indonesia sepanjang 5 tahun terakhir menunjukkan  pertumbuhan  yang cukup signifikan.  Hal ini terlihat dari tingginya pertumbuhan IHSG dan kapitalisasi pasar saham di Bursa Efek Indonesia.  Pada tahun 2014 ini IHSG  bahkan  mencatat level tertingginya sepanjang masa pada tanggal 8 September 2014 di level 5.246.  Sepanjang tahun 2014 ini pertumbuhan IHSG  mencapai 16%, merupakan salah satu yang terbaik di kawasan Asia, lebih tinggi dari pada Jepang, Singapura dan Malaysia.
Indonesia pada skala ASEAN, seharusnya mampu memegang peranan hingga 40 persen, baik dari segi perdagangan dan jumlah penduduk. Hal Ini yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia seluas-luasnya dan sebesar-besarnya.
Ditulis oleh :
Mochammad Isro Alfajri
Fakultas Bioteknologi Semester IV

Universitas Teknologi Sumbawa

Selasa, 30 Juni 2015

Potensi Sumber Daya Alam Kabupaten Sumbawa (Tana Samawa)


          

Presentasi Potensi Wilayah NTB di Wisma Daerah tanggal 04 Juni 2015

         Saya Mochammad Isro alfajri mahasiswa semester 4 fakultas Bioteknologi Universitas Teknologi Sumbawa. Satu-satunya universitas teknologi yang ada di Indonesia timur yang baru dibangun dua tahun yang lalu dan Salah satu diantara 3 fakultas bioteknologi yang ada di Indonesia 2 lainnya berada di Indonesia barat yaitu Universitas Surabaya dan Universitas Atmajaya Jakarta. Negara Indonesia begitu kaya akan biodiversitas dan sumber daya alam tetapi begitu miskin dengan kualitas sumber daya manusia. Adalah sesuatu yang sangat memprihatinkan ketika Indonesia sebagai negara maritim tetapi masih mengimpor ikan dan garam dari negara lain. Bukan hanya itu negeri ini di anugerahi matahari yang selalu bersinar sepanjang tahun dengan luas wilayah yang begitu luas yakni 1.919.440 km2 tetapi tidak bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Pada masa lalu negeri ini disebut sebagai macan Asia bersanding dengan negara Cina dan menjadi negeri yang dihargai dan dikenal dermawan untuk membagikan pangannya ke sejumlah negara miskin yang rakyatnya kelaparan dengan swasembada pangan Indonesia pada tahun 80-an itu mungkin tidak sulit untuk negara ini lakukan.
Kabupaten Sumbawa "Sabalong Samalewa"
      Sumbawa adalah kabupaten dengan luas wilayah daratan sekitar 6.643,98 km2 dengan luas lautan sekitar 4.912,46 km2 dengan jumlah penduduk yang hanya berkisar di angka 423.029 jiwa dengan kepadatan 64 jiwa/km2. Kabupaten Sumbawa berada di dalam koridor V dengan fokus pembangunan pariwisata, peternakan, pertanian, perikanan dan ketahanan pangan. Selain potensi daratan dan laut Sumbawa juga mengandung banyak mengandung mineral seperti emas, tembaga, mangan, batu kapur, pasir besi, dan potensi panas bumi serta angin yang dapat dikelola untuk kesejahteraan masyarakat.

           Diakhir tahun 2012 produksi padi sekitar 400.000 ton padahal kebutuhan kabupaten Sumbawa hanya sekitar 150.000 ton. Produksi jagung mencapai 200.000 ton pada tahun 2012 serta di bidang peternakan Jumlah sapi mencapai 193.907 ekor pada tahun 2012 sehingga Sumbawa dianugrahi penghargaan Indonesia live stock 2013 oleh pemerintah Republik Indonesia. Tetapi, dengan begitu banyak potensi dan kekayaan daerah yakni masyarakat Sumbawa belum dapat menikmatinya secara maksimal karena hasil kekayaan alam Sumbawa belum dapat diolah untuk meningkatkan nilai jual. Sehingga masyarakat hanya menjual dalam bentuk bahan mentah dengan harga yang rendah. Contohnya jagung, jagung Sumbawa dikirim ke pulau Jawa untuk dijadikan bahan pangan olahan, pupuk, dan berbagai bentuk lainnya. Pupuk yang dihasilkan tersebut kemudian dijual kembali ke kabupaten Sumbawa dengan harga yang berkali-kali lipat dari harga sebelumnya. Sehingga tidak heran bahwa kesejahteraan masyarakat tidak meningkat secara signifikan dibuktikan dengan jumlah Penduduk miskin pada tahun 2012 77.203 jiwa atau sekitar 18,25% dari total masyarakat Sumbawa. Kemudian Kesehatan masyarakat Sumbawa dalam kasus gizi buruk pada tahun 2009 terdapat 179 kasus menjadi 247 kasus pada tahun 2010 pada daerah yang kaya akan pangan tentunya hal ini sangat memprihatinkan.
  
        Masih banyak potensi yang dapat di optimalkan di kabupaten Sumbawa diantaranya Potensi luas wilayah Sumbawa yang begitu besar belum dimanfaatkan secara optimal luas lahan yang telah diolah menjadi lahan persawahan hanya mencapai 51.588 ha. Dan petani dengan pertanian yang monokultur jenis padi sangat banyak, sehingga menyebabkan jumlah Panen dari tiap petani menurun setiap tahunnya dengan luas lahan yang sama sehingga menurunkan produktivitas para petani Sumbawa. Sehingga pendidikan dan peningkatan kompetensi masyarakat adalah sesuatu yang harus ditingkatkan. Sumbawa adalah salah satu kabupaten dari 10 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat, saat ini indeks pembangunan manusia (IPM) dari Provinsi Nusa Tenggara Barat berada di peringkat 33 dari 34 provinsi di Indonesia. 

Oleh :
Mochammad Isro Alfajri 
Mahasiswa Semester IV Bioteknologi 
Universitas Teknologi Sumbawa

Ethnic Identity, Local Wisdom, and Gotong Royong to Building Peace with Unwritten Rules


Indonesia with a past history of a powerful nation of the history of the kingdom of Majapahit which controls up to almost the entire region of Southeast Asia. After Kingdom of Majapahit the next glory of Indonesia in 1980s in the Orde baru era. 1998 was the beginning of the history of the Reformation era and the start of democratic Indonesia. Democracy in the reform period is expected to be a solution and bridge the aspirations of the people of Indonesia from the Sumatra Island to Papua Island. Indonesia is a country that is praised for its success in running a democracy with the background of this state is the majority religion is moeslem but did not end up the same as the country of Syria, Iraq, and Egypt.

There are three things that make this country can survive in the past the difficult era there are ethnic identities, local wisdom  and mutual aid Societies or “Gotong royong” to survive until today. Samawa is the one endegoneous ethnic in West Nusa Tenggara (NTB). Ethnic identity as the main characteristics of Samawa tribe, an egalitarian society that  easy in adapting the new development in Globalization era. "Samawa mampis Rungan" means Sumbawa brought news scented or fragrant Sumbawa meaning that people really wanted to present the good news and the peace of the land of Sumbawa. That is important to maintain Sumbawa culture under the role of culture based Development.

Local wisdom is the identity from our ancestor. Sumbawa people famous as the land of honey with honey production as much as 125,000 tons/year. There is a local wisdom in Batudulang Community are protecitng of boan trees (Tetrames nudlifora), according of the community it’s the Boan trees a log chosed by bees to built uap it’s hive. They called Boan trees Because The trees have a lot of beehive, If there is only one beehive, we do not called it as Boan. but in Sumbawa language the name of Boan's Wood is "Binong". For all this time Boan trees are protected by the Community with Unwritten rules. So, Three are uniwritten agreement in the Community to not cutting down of the trees.

Local wisdom and ethnic identity will be suistain if culture of Gotong royong still alive. Gotong royong or Mutual cooperation is an activity undertaken by working without wages or salary in doing something. This tradition up comes up because farmers in the past. Gotong royong as social interaction is happened so that people not only recognize the environment but recognize individuals and neighbors who are nearby as well as the creation of harmony between the communities. Gotong royong in Sumbawa society can be seen in the form of several activities. First of Gotong royong in maintaining security, "Ronda" or nightwatch is activities of a group of people who made a deal to secure the evenings in the area in which the people who have made the deal from 00.00 am to 05.00 am Ronda as a security team duty  but this was done by people themselves who live in that area without any fees or salary of the agreement that has been determined. "Pos ronda" is use as a gathering place and as a patrol officer. After that, Gotong royong in the development of village infrastructure by the community. Sumbawa infrastructure development accelerated with the direct involvement of the Community. Although, most people are farmers but they also have the ability to build infrastructure such as the gutter, fence, even building and renovation of house. Gotong royong in making home is done jointly by the public without any payment or salary but Social interaction is happened. Thirdly Gotong royong in harvest crops, for a full day the whole community will be collected on a farm to be harvested, land owners role as supervisor and other community role as workers, these activities will be carried out every day during the harvest time in different land with different land owners. So, that acts of a supervisor and subordinate also will be different every day.


By : 
Mochammad Isro Alfajri 
Undergraduete Student of Biotechnology
Sumbawa University of Technology

Penundaan Usia Perkawinan di NTB untuk Peningkatan IPM NTB 2015

Duta Mahasiswa GenRe NTB 2014

Pernikahan anak didefinisikan dalam dua konteks, sesuai UU Perkawinan No.1 Tahun 1974 maka pernikahan anak dipandang sebagai pernikahan remi atau bisa dipandang tidak resmi sebelum berumur 18 tahun. Berdasarkan UU Perlindungan Anak No.23 Tahun 2002, kondisi ini merupakan realitas untuk anak kaum laki-laki dan perempuan. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), pada tahun 2012, 24.5% dari perempuan telah menikah pada umur 18 tahun. Di NTB 5.8% dari perempuan NTB telah menikah pada umur 15 tahun (BPS NTB, 2012) sementara rata-rata nasional adalah 2.6%. Di ingkar daerah, satu dari 2 perempuan (50.1%) telah menikah pada umur  19 tahun, sementara di tingkat nasional rata-ratanya adalah 26.5%. Berdasarkan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP dan PA)  dan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) NTB (2013) membahas mengenai faktor penyebab Usia Pernikahan Dini, yaitu : (1) Sosial dan budaya, pandangan masyarakat Lombok terutama tokoh desa dan tokoh adat sering kali menjadi pelaku yang melegalkan bahwa perempuan setelah akil balik atau berusia 12 tahun sudah bisa menikah dan di Lombok menikah di usia dini ini disebut dengan kawin lari atau merarik. (2) Ekonomi, keluarga dari kalangan miskin sering kali mendorong anak perempuan mereka bisa menikah dengan tokoh agama dan tokoh adat maupun dari kalangan kaya untuk membantu keluarga. (3) Administrasi, penerimaan masyarakat dalam menerima tradisi merarik membuat sering kali terlupa bahkan sengaja tidak membuat surat nikah dan kemudian terus berdampak tidak memiliki seurat cerai, kartu keluarga (KK), dan akta kelahiran bagi anak mereka. 

Untuk mengurangi pernikahan di usia dini yang terjadi di masyarakat Lombok. Kami akan melakukan kegiatan edukasi dan pemahaman yang baik mengenai dampak dari pernikahan usia dini untuk meningkatkan kepahaman masyarakat mengenai adat istiadat yang harus dijaga dan ditinggalkan. Kegiatan ini berdasarkan pada data BPS RI (2011) menunjukkan bahwa di Provinsi NTB, rata-rata lama sekolah perempuan selama 6.5 tahun dan NTB berada di peringkat ke-32 dari 33 provinsi yang ada di Indonesia. Sehingga, untuk menekan jumlah pernikahan dini yang ada di NTB, pendidikan adalah cara yang efektif dan baik sebagai sektor utama yang harus diperhatikan. Adapun metodologi dari kegiatan ini berlokasi di daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Diharapkan kader mampu untuk menjangkau seluruh desa di Lombok terutama di desa yang masih kuat akan adat istiadatnya. Sumber data yang digunakan berasal dari BP3AKB, BKKBN, BKKBP, KPP dan PA. Adapun sasaran dari kegiatan ini adalah remaja perempuan berusia 12-18 tahun. Diharapkan dengan kegiatan ini dilakukan dapat menekan jumlah pernikahan usia dini di Nusa Tenggara Barat dengan beberapa parameter keberhasilan yakni : (1) Berhasil memberikan edukasi ke seluruh desa di NTB secara berkelanjutan, (2) Terjadinya peningkatan pemahaman dan kepedulian remaja perempuan terhadap dampak dari pernikahan di usia dini, (3) Menghasilkan kader-kader remaja perempuan yang menolak PUP, dan (4) Menjalin kerja sama dengan institusi pendidikan untuk meningkatkan keberhasilan program. Kegiatan kecil namun berdampak besar adalah konsep yang ingin kami sampaikan, dengan edukasi dan pendidikan diharapkan mampu menguangi angka PUP di NTB dan akan berbanding lurus dengan penurunan angka kematian bayi, kekerasan dalam rumah tangga, peningkatan kesehatan perempuan dan tercapainya kesejahteraan masyakat. 

Oleh : Mochammad Isro Alfajri 
Duta Mahasiswa GenRe NTB 2014
BKKBN Provinsi NTB
Mahasiswa Semester IV Fakultas Teknobiologi 
Universitas Teknologi Sumbawa

Senin, 22 Desember 2014

Puisi Ibu

 
Selamat Hari ibu

Puisi ini aku ciptakan untuk ibu ku

Bahagia mu adalah segalnya bagiku

Semua ini aku persembahkan untuk mu

Dengan keringat, waktu, dan semngat 

Utk bisa mmbuat mu trsenyum

Bukan utk driku atau orang lain

Aq hanya ingin engkau bangga dengan smua yg tlah aku capai dan aku raih

Wlaupun ini tidak sebanding dengan semua yg engkau tlah brikan ..

Dengan bertaruh nyawa engkau hadirkan aq di dunia ini 

Dengan sabarmu dan kasih sayangmu aku bisa sperti ini

Maaf ketika aq pernah bernada tinggi 

Maaf ketika aq tdk mndengar kata-kata mu 

Maaf ktka aq lupa mghbungi mu dan lbh pduli kpd org lain 

Ttp aq yakin engkau memahami diriku lebih drpd aq memahami driku 

Hanya ini yang aku bsa persembahkan utk mu 

Ibu ku tercinta

Ciptaan : Mochammad Isro Alfajri